Kamis, 17 Juni 2010

Sentuhan Teknologi Jamu Cilacap

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Pepatah ini agaknya cukup mengena pada sejumlah pengusaha jamu tradisional di Cilacap, Jawa Tengah. Beberapa waktu lalu, santer tersiar kabar sejumlah produk jamu mengandung bahan kimia. Penambahan bahan kimia pada jamu tentu saja dilarang.

Namun, beberapa oknum pembuat jamu racikan di daerah Cilacap pernah menambah racikan jamu tradisional dengan bahan obat. Akibatnya, jamu tersebut dilarang beredar dan dilarang berproduksi lagi. Para pembuat jamu tradisional di Cilacap pun terpuruk akibat peristiwa tersebut. Memang, hanya beberapa pembuat jamu yang melakukannya. Tapi, akhirnya semua pengusaha jamu selalu dicurigai dan sulit mendapatkan izin dari pemerintah daerah. "Ini jelas merugikan kami para pembuat jamu tradisional," ujar Amir Fatah, perwakilan Kepala Desa Gentasari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Keluhan tersebut mengemuka saat peninjauan penerapan program Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Daerah (Iptekda) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jawa Tengah. Para pengusaha jamu mengeluhkan sulitnya memperoleh perizinan. Namun, mereka tak patah arang, karena sejak berpuluh-puluh tahun lalu, jamu Cilacap merupakan andalan penghasilan keluarga di desa itu.

Upaya keras untuk memperperbaiki citra jamu tradisional Cilacap terus dilakukan dengan meningkatkan mutu jamu yang diproduksi. Amir berharap, dengan memperbaiki kualitas, mereka bisa kembali meraih kepercayaan pemerintah maupun konsumen.

Maka, penerapan program mesin pengolah herbal yang dirancang iptekda, berusaha diterapkan. Amir mengatakan, peran LIPI cukup memberikan dampak positif bagi perbaikan mutu jamu. "Semoga bantuan mesin dari iptekda bisa membuat jamu Cilacap jadi tuan rumah di daerah dan negara sendiri," ujarnya.

Pemrosesan jamu

Untuk meningkatkan kualitas produksi jamu di Kabupaten Cilacap, Pusat Penelitian Teknologi Listrik dan Meka-tronik (P2 Telimek) LIPI membuat rangkaian peralatan produksi jamu. Perancangan alat ini menggandeng juga perusahaan jamu Sumber Alami, Cilacap.

Kepala Puslit Telimek LIPI Bandung, Agus Hartanto, mengatakan, sudah lama ia berpikir ingin menjadikan jamu tradisional Indonesia jadi go international, seperti produk Cina. Makanya, LIPI mencoba membantu membuat peralatan pemroses jamu. "Peran kita untuk menekankan agar tak ada campuran bahan kimia pada jamu dan benar-benar herbal. Dengan herbal pun, produksi kita bisa bagus dan bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Menurut Peneliti P2 Telimek LIPI, Dal-masius Ganjar Subagyo, jamu berkonotasi obat-obatan, yang cenderung berbahan kimia. "Padahal, jamu berbahan baku herbal," ujar Dalmasius yang mempelajari karakter jamu Cilacap sejak 2004.

Dahulu, menurutnya, peralatan untuk memproduksi, jamu sangat sederhana dengan kapasitas terbatas. Kualitasnya pun masih rendah. Maka, dibuatlah alat dengan kapasitas produksi 100 kilogram per hari. Teknologi yang digunakan dalam program ini adalah membuat satu rangkaian peralatan yang secara berurutan melakukan proses produksi. Rangkaian peralatan tersebut dipakai untuk memproduksi tepung jamu berkualitas.

Sentuhan teknologi dilakukan mulai tahap pencucian bahan-bahan herbal hingga pengemasannya. Adapun tahap-tahapan yang dilalui adalah proses pencucian, pengirisan {slicing), pengeringan, penepungan, peracikan {mixer), pengemasan dalam bentuk sachet, dan ke depan akan dikembangkan teknologi pengekstrak. "Untuk tingkat UKM, ini sudah cukup. Produksi tepung itu bukan langsung penepung. Tapi, ada prosesnya dan alatnya sendiri," ujar Dalmasius.

Salah satu mesin yang digunakan adalah mesin pengering irisan herbal seperti jahe, temulawak, kencur, dan kunyit, sebagai bahan baku jamu. Pengeringan dilakukan untuk menurunkan kadar air di herbal, sehingga tersisa menjadi sekurangnya 10 persen.

Alatnya menggunakan listrik untuk menggerakkan mesin. Sementara suplai panas guna mengeringkan irisan herbalmenggunakan kayu bakar. "Kita hanya menggunakan panasnya dari kayu bakar, bukan asapnya. Ini sebagai pengganti sinar matahari," ujarnya.

Dalmasius mengatakan, dengan peralatan produksi ini, diharapkan dapat mempercepat proses produksi serta mengontrol langsung kualitas dari tepung yang diproduksi. Kapasitas mesin yang diperbantukan sebesar satu ton tepung herbal per hari. Kapasitas ini bisa mendukung persiapan 11 produk unggulan jamu Cilacap.

Menurutnya, dari hasil teknologi ini, bisa dihasilkan berton-ton tepung jamu. Tepung ini bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan para peracik jamu. Dulu, pada saat puncak kesuksesan jamu Cilacap di era 1994 hingga 1996, kebutuhan tepung jamu sebanyak 10 ton per hari. "Sekarang, kita bisa penuhi, asalkan ada perjanjian tertulisnya, yaitu tidak mencampur racikannya dengan bahan kandungan obat," ujar Dalmasius.

Sekitar 30 persen dari 13.022 orang penduduk desa ini, bekerja di industri pembuatan jamu. Pengurus Koperasi Jamu Aneka Sari, Mufarid, mengharapkan, produksi jamunya akan lebih bagus dengan teknologi dari iptekda."Kami berharap dari program ini bisa memberikan pengarahan pembuatan jamu yang lebih baik," ujarnya.

Di Koperasi Jamu (Kopja) daerah ini, terdapat 12 unit usaha jamu dengan 257 perajin, termasuk jamu Aneka Sari. Semua unit usaha wajib melakukan pengujian jamu dengan menggunakan cara pembuatan obat yang baik (CPOB). Selain itu, juga mewajibkan setiap pengusaha memiliki apoteker dan laboratorium. sd andina


Sumber :
Dewi Mardlani, Republika dalam :
http://bataviase.co.id/node/245851
17 Juni 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar