Kamis, 17 Juni 2010

Kabupaten Cilacap






Kabupaten Cilacap, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Cilacap. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Brebes dan Kabupaten Banyumas di utara, Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Kebumen di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar (Jawa Barat) di sebelah Barat.

Berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Barat, Cilacap merupakan daerah pertemuan Budaya Jawa (Banyumasan) dengan Budaya Sunda (Priangan Timur). Nusa Kambangan, sebuah pulau yang tertutup terdapat lembaga pemasyarakatan Kelas I, terdapat di kabupaten ini. Pulau ini sering juga disebut sebagai AL Catraz-nya Indonesia. Ada beberapa Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas I yang masih aktif antara lain: LP Permisan, LP Kembang Kuning, LPBatu, dan LP Besi.


Geografi

Cilacap merupakan kabupaten terluas di Jawa Tengah. Luas wilayahnya sekitar 6,6% dari total wilayah Jawa Tengah. Begitu luasnya sehingga kabupaten ini memiliki dua kode telepon yaitu 0282 dan 0280.

Bagian utara adalah daerah perbukitan yang merupakan lanjutan dari Rangkaian Bogor di Jawa Barat, dengan puncaknya Gunung Pojoktiga (1.347meter), sedangkan bagian selatan merupakan dataran rendah. Kawasan hutan menutupi lahan Kabupaten Cilacap bagian utara, timur, dan selatan.

Di sebelah selatan terdapat Nusa Kambangan, yang memiliki Cagar Alam Nusakambangan. Bagian barat daya terdapat sebuah inlet yang dikenal dengan Segara Anakan. Ibukota kabupaten Cilacap berada di tepi pantai Samudra Hindia, dan wilayahnya juga meliputi bagian timur Pulau Nusa Kambangan.

Kenyataan bahwa sebagian penduduk Kabupaten Cilacap bertutur dalam bahasa Sunda, terutama di kecamatan-kecamatan yang berbatasan dengan Jawa Barat, seperti Dayeuhluhur, Wanareja, Kedungreja, Patimuan, Majenang, Cimanggu, dan Karangpucung, menunjukan bahwa pada masa lalu wilayah barat daerah ini adalah bagian dari wilayah Sunda. Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Prabu Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627, batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah sungai Cipamali (yang saat ini sering disebut sebagai kali Brebes) dan sungai Ciserayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah.


Pembagian Administratif

Kabupaten Cilacap terdiri atas 24 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Desa-desa tersebar di 21 kecamatan, sedangkan kelurahan ada di 3 kecamatan eks kota administratip Cilacap. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, Cimanggu, Karangpucung, Sidareja, Gandrungmangu, Kedungreja, Patimuan, Cipari, Bantarsari, Kawunganten, Jeruklegi, Kesugihan, Maos, Sampang, Kroya, Adipala, Binangun, Nusawungu, Kampung Laut, Cilacap Utara, Cilacap Tengah dan Cilacap Selatan.

Ibukota Kabupaten Cilacap adalah Cilacap, yang terdiri atas kecamatan Cilacap Utara, Cilacap Tengah, dan Cilacap Selatan. Cilacap dulunya merupakan Kota Administratif, namun sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, tidak dikenal adanya kota administratif, dan Kota Administratif Cilacap kembali menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Cilacap.

Di antara kota-kota kecamatan yang cukup signifikan di Kabupaten Cilacap adalah: Majenang, Karangpucung, Sampang, Sidareja, dan Kroya. Majenang menjadi pusat pertumbuhan kabupaten Cilacap di bagian Barat sedangkan Kroya dan Sampang menjadi pusat pertumbuhan di Bagian Timur.


Wacana Pemekaran

Mengingat begitu luasnya wilayah Kabupaten Cilacap, pernah muncul wacana pemekaran di tengah masyarakat, dengan harapan agar urusan administratif bagi warga yang bertempat tinggal jauh dari ibukota dapat lebih ditingkatkan lagi pelayanannya. Jika terealisasi, pemekaran tersebut akan membagi wilayah Kabupaten Cilacap menjadi dua yakni:

Kabupaten Cilacap, meliputi kecamatan Cilacap Selatan, Cilacap Tengah, Cilacap Utara, Kesugihan, Sampang, Maos, Kroya, Adipala, Nusawungu, Binangun.

Kabupaten Cilacap Barat, meliputi kecamatan Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, Cimanggu, Karangpucung, Sidareja, Gandrungmangu, Kedungreja, Patimuan, Cipari, Bantarsari, Kawunganten, Jeruklegi.


Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Cilacap
17 Juni 2010


Sumber Gambar:

http://4.bp.blogspot.com/_xulWMvcX85w/SzF8vkMaANI/AAAAAAAAACY/QJ8PcWzkQZc/S1600-R/cilacap_tercinta.gif

http://torasoegieno.wordpress.com/2007/07/14/cilacap-milik-siapa/

http://wisata-kuliner-lengkap.blogspot.com/2009/11/wisata-pantai-karang-pandan-di-cilacap.html

http://banyumasnews.com/2009/07/01/cilacap-nan-ayu/

Peta Cilacap


View Larger Map

Teluk Penyu dan Benteng Pendem Andalan Cilacap

Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, hingga saat ini tetap mengandalkan wisata pantai sehingga pengembangan terhadap potensi tersebut terus dilakukan.

"Memang tak bisa dipungkiri, pantai dan laut merupakan ikon yang melekat pada Kabupaten Cilacap, sehingga potensi wisata yang ada akan terus kita kembangkan," kata Kepala Bidang Pemasaran dan Penyuluhan Pariwisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Cilacap, Dian Arinda Murni, di Cilacap, Senin (4/5).

Ia mengatakan, berbagai upaya yang dilakukan Dinbudpar untuk mengembangkan potensi wisata pantai di Cilacap yakni menggandeng pihak ketiga (swasta) dalam pengelolaan Objek Wisata Pantai Teluk Penyu termasuk di dalamnya Benteng Pendem.

Dengan adanya keterlibatan pihak ketiga, kata dia, keberadaan Objek Wisata Pantai Teluk Penyu dan Benteng Pendem dapat lebih tertata serta menarik sehingga kunjungan wisatawan diharapkan dapat meningkat dan dapat lebih banyak menyumbangkan dana bagi pendapatan asli daerah (PAD).

Menurut dia, PAD yang disumbangkan sektor pariwisata pada tahun lalu mencapai Rp 400 juta yang sebagian besar berasal dari Teluk Penyu dan Benteng Pendem. "Kita berharap dengan keterlibatan pihak ketiga, PAD yang disumbangkan tahun ini meningkat dua kali lipat dari tahun lalu atau minimal mencapai Rp 600 juta," katanya.

Keterlibatan pihak ketiga terhadap pengelolaan kawasan wisata Teluk Penyu tersebut, menurut Dian, masih dalam rangka uji coba karena jika berhasil, tidak menutup kemungkinan hal itu akan dilakukan pada objek wisata lain.

Menyinggung keberadaan objek wisata lainnya di Kabupaten Cilacap dan sebagian besar berada di wilayah pantai, dia mengatakan, Dinbudpar tetap berupaya melakukan pengembangan meski diakui masih adanya beberapa kendala yakni kepemilikan lahan oleh TNI.

Kendati demikian, kata dia, Dinbudpar akan berusaha menjembatani para investor yang berminat mengembangkan sejumlah objek wisata pantai tersebut dengan pihak TNI selaku pemilik lahan.

Salah satu objek wisata pantai yang saat ini lahannya masih dimiliki TNI, lanjutnya, yakni Pantai Indah Widarapayung yang konon memiliki ombak yang sangat bagus untuk kegiatan selancar.

"Kita ingin nantinya Pantai Indah Widarapayung dapat menjadi salah satu tempat berselancar wisatawan domestik maupun mancanegara. Bahkan, saat ini sudah ada dua investor yang tertarik mengembangkan pantai tersebut dan saya kira pihak TNI akan bersedia memberi dukungan," katanya.

Sumber:
http://travel.kompas.com/read/xml/2009/05/05/09141370/, dalam:
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=9859&Itemid=1475
17 Juni 2010

Cilacap Miliki Potensi Batik Tulis yang Telah Mendunia


Bicara batik tulis, pasti lekat dengan kota-kota seperti Jogja, Solo dan Pekalongan yang menjadi sentra industri batik di tanah air. Tapi taukah Anda, Cilacap juga punya batik khas? Jarang yang mengetahui jika Cilacap ternyata memiliki potensi besar pada kerajinan batik. Sentra produksi batik di Kabupaten Cilacap saat ini ada di Kecamatan Maos Cilacap dan kemudian berkembang ke Nusawungu dan beberapa desa di wilayah Cilacap bagian timur. Produksi batik Cilacap dikelola oleh 2 kelompok usaha wanita Batik Rajasa Mas Di desa Maos Lor yang diketuai Euis Rohaini dan Kencana Desa Maos Kidul yang diketuai Ny Maryo.

Menurut cerita, seni batik dibawa kaum bangsawan yang datang ke Maos sekitar abad ke-18 dan konon katanya batik tulis Maos merupakan karya warisan masa Pangeran Diponegoro. Sejak saat itu, seni batik tulis mulai diperkenalkan dan hingga saat ini dikenal dengan batik tulis Maos.

Produk batik tulis tradisional asli Cilacap cukup diminati para kolektor batik di Asia Tenggara, Korea, Jepang dan Eropa. Kini produk tersebut bahkan sudah bisa dijumpai di Julia Van Causal Boutiq, Toohool Boutiq dan Sossumi Boutiq di London, Inggris dan sejumlah butik di Belanda.

Selain laris di pasaran Internasional, batik tulis Maos, Cilacap saat ini mulai digandrungi kalangan pejabat seperti DPRD Propinsi Jawa Tengah yang telah memesan sebanyak 100 potong. Sejumlah butik artis di Jakarta juga menjual batik ini, antara lain Angelina Sondakh Boutiq, Ida Royani Boutiq dan Oskar Lawalata Boutiq.

Lebih membanggakan lagi bahwa batik khas Cilacap telah diikutkan dalam event pameran di Kuching, Serawak Malaysia yang berlangsung pada tanggal 8-15 Juli bersama dengan produk lain dari 50 negara. Indonesia menjadi salah satu peserta dengan mengirimkan delapan perajin dan batik Cilacap menjadi satu-satu wakil Indonesia dalam event internasional tersebut. Sempat ada wacana yang berkembang bahwa akan muncul trend fashion Indonesia dengan batik Cilacap di tahun 2009. Harga batik Maos, Cilacap bervariasi tergantung corak, motif, tingkat kesulitan serta jenis kain yang dipakai.

Seperti halnya batik Solo dan Pekalongan yang mempunyai ciri khas, batik Cilacap pun memiliki pilihan warna klasik yang menjadi ciri khas batik tulis Maos yakni coklat, hitam dan putih serta warna – warna yang berani, yaitu biru, hijau, atau kuning. Untuk motifnya, umumnya mengadopsi motif lingkungan sekitar, seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, dan benda-benda alam lainnya seperti motif klasik (Gandasuli, rujak sente) dan motif kontemporer (tumbuhan khas Cilacap : motif buah jeruk, buah gowok, tumbuhan, dan sungai Serayu). Orang-orang Eropa lebih menyukai motif klasik dengan warna alami seperti kulit mahoni dan jalawe.

Cilacap miliki potensi batik tulis Maos yang telah mendunia ini, merupakan suatu kekayaan warisan luhur budaya bangsa yang perlu dilestarikan. Oleh karena itu diperlukan usaha untuk mendukungnya, misalnya dengan mengikutsertakan dalam pameran-pameran baik nasional maupun internasional, memperluas pemasaran produk, menjamin ketersediaan ketersediaan bahan baku dan yang penting adalah dilakukannya regenerasi para pembatik karena selama ini cenderung dilakukan oleh generasi tua.


Sumber:
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/06/batik-cilacap/
17 Juni 2010

Potensi Pariwisata Kabupaten Cilacap


Mendengar nama Kabupaten Cilacap, yang terlintas di benak Anda pastilah kawasan industri besar di Provinsi Jawa Tengah. Di kabupaten seluas 2.142,57 km^2 ini, setidaknya terdapat tiga industri besar, yakni Pertamina, Semen Holcim, dan PLTU Karangkandri. Tetapi ketika Anda menyambangi kawasan industri ini, Anda akan terkejut karena Anda dapat termanjakan oleh keindahan alam dan peninggalan sejarah yang dimiliki Cilacap. Sebagian besar wilayah kabupaten Cilacap dikelilingi oleh perairan. Maka, tak heran jika kabupaten ini memiliki potensi wisata pantai yang sangat besar.

Teluk Penyu

Teluk Penyu merupakan kawasan pantai yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Teluk ini dinamakan Teluk Penyu karena banyaknya penyu yang berkeliaran di sepanjang bibir pantai. Sangat disayangkan, saat ini binatang tersebut sudah tidak lagi dapat ditemukan di Teluk Penyu. Perairan di Teluk Penyu ini tergolong tenang, sehingga berbagai jenis ikan dapat ditemukan di kawasan ini.
Tak heran jika banyak dijumpai kapal nelayan tradisional untuk menangkap ikan maupun disewa untuk memancing dan berwisata. Di teluk ini jiga terdapat banyak warung dan restoran menyajikan menu makanan laut disamping kios penjual souvenir khas laut.

Benteng Pendem

Benteng Pendem Cilacap adalah bekas markas pertahanan tentara Hindia Belanda yang dibangun secara bertahap tahun 1861-1879 dengan luas 6,5 hektar. Posisi benteng ini tepat di ujung selatan Pantai Teluk Penyu menghadap ke arah mulut selat Nusa Kambangan yang merupakan pintu masuk ke pelabuhan alam Cilacap. Kawasan Benteng Pendem sangat menarik untuk dijelajahi satu persatu. Pada awalnya, benteng ini terbagi dalam sebelas ruang, yakni barak, klinik, ruang pertahanan, ruang rapat dan tempat meriam. Selain itu juga terdapat gudang senjata, kamar penjara, ruang perlindungan, gardu pandang, terowongan, dan pintu gerbang. Sejak dijadikan objek wisata, kawasan benteng ini ditambah dengan musholla dan toilet.

Pelabuhan Alam

Pelabuhan Cilacap adalah pelabuhan yang terbentuk secara alamiah dengan kedalaman yang memadai. Pelabuhan ini aman dari hantaman gelombang karena terlindung oleh Pulau Nusa Kambangan. Pelabuhan ini mempunyai sejarah penting saat takluknya sekutu ( termasuk Belanda ) oleh Jepang. Pada masa itu pelabuhan Cilacap merupakan salah satu dari tiga pelabuhan terpenting di Jawa ( Batavia – Soerabja – Tjilatjap ). Karena pelabuhan ini terbentuk secara alamiah, maka pemandangan pelabuhan alam ini berbeda dengan pelabuhan-pelabuhan pada umumnya. Bentuknya sangat artistik dan sulit untuk diungkapan dengan kata-kata.

Seleko

Seleko adalah sebuah dermaga kecil untuk kepentingan masyarakat umum. Para wisatawan biasanya menikmati matahari terbenam di kota Cilacap melalu dermaga kecil ini. Dermaga kecil ini langsung menghadap hutan bakau di barat Cilacap, jadi pemandangannya terlihat sangat indah.

Nusakambangan

Pemilik pulau ini adalah Departemen Kehakiman tetapi secara kewilayahan masuk ke dalam wilayah administrative kota Cilacap Selatan. Departemen Kehakiman menggunakan pulau ini sebagai tempat penjara kelas kakap. Di “pulau penjara” ini, sejumlah bangunan bersejarah peninggalan pemerintah kolonial Belanda bisa dijumpai. Bangunan bersejarah seperti rumah penjara, tempat peristirahatan di candi, benteng Portugis dengan peninggalan meriam kuno yang merupakan sebagian potensi alam serta sejarah di Nusakambangan, ditawarkan sebagai atraksi wisata. Di pulau ini terdapat sekitar 25 goa, seperti Goa Putri dan Ratu yang kini telah dikembangkan oleh Pemda Cilacap-Goa Kledeng, Pasir, dan Goa Lawa ( goa kelelawar ) yang dihuni ribuan hewan malam ini.

Kampung Laut

Seperti namanya kampung ini memiliki rumah-rumah panggung yang berada di atas air laut. Terletak di sebelah barat kota Cilacap, tepatnya di daerah hutan bakau di Segara Anakan. Kampung ini unik karena letaknya. Untuk mencapainya tentu harus menggunakan perahu nelayan atau perahu motor dari dermaga Seleko. ampung ini memang layak untuk dijadikan tujuan wisata.

Hutan Bakau dan Segara Anakan

Segara anakan adalah sebuah laguna yang menjadi titik pertemuan air samudera Hindia dengan sungai – sungai dari daerah jawa barat terutama sungai Citandui. Karena kondisinya ini Segara Anakan ditumbuhi hutan bakau yang amat luas. Segara Anakan menjadi jalus transpotasi laut yang menghubungkan Cilacap dengan Jawa Barat seperti Pangandaran dan Banjar. Bagi yang senang bertualang dan wisata alam tempat ini akan memberikan pengalaman yang berbeda.


Sumber:
http://bisnisukm.com/potensi-pariwisata-kabupaten-cilacap.html
17 Juni 2010

Sumber Gambar:
http://pariwisata.cilacapkab.go.id/index.php?pilih=hal&id=73

Pemekaran Cilacap Barat Tinggal Menunggu Pusat


Pemekaran wilayah Kabupaten Cilacap bagian barat saat ini tinggal menunggu persetujuan dari pemerintah pusat. DPRD Cilacap telah menyepakati pemekaran tersebut dan mengirimkan rekomendasi ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan pemerintah pusat.

"Hasil kesepakatan DPRD Cilacap dalam rapat paripurna tentang pemekaran sudah kami tembuskan ke melalui gubernur dan DPRD Jateng. Proses selanjutnya tentu ke Departemen Dalam Negeri. Keputusannya masih menunggu itu," kata Ketua DPRD Cilacap Fran Lukman, Minggu (17/1/2010).

Keputusan mengenai pemekaran Cilacap, lanjut Fran, didasari pada pertimbangan timpangnya pembangunan antara Cilacap bagian barat dengan timur. Hal ini seperti terlihat dalam pembangunan infrastruktur di dua wilayah tersebut yang tak seimbang. Akibatnya, roda perekonomian di Cilacap bagian barat berjalan lebih lambat dibanding wilayah timur.

"Pemkab Cilacap hingga saat ini kewalahan untuk membangunan wilayah Cilacap yang sedemikian luas. Bagian barat terlihat masih ketinggalan. Kami berharap dengan pemekaran ini Cilacap bagian barat dapat lebih cepat berkembang," kata dia.

Cilacap merupakan kabupaten dengan wilayah terluas di Jateng, yang terdiri atas 24 kecamatan. Rencananya, 10 kecamatan yang ada di bagian barat dimekarkan sebagai kabupaten tersendiri. Sepuluh kecamatan tersebut adalah Majenang, Sidareja, Wanareja, Dayeuhluhur, Kedungreja, Patimuan, Cimanggu, Cipari, Gandrungmangu, dan Karangpucung. Ada 129 desa di 10 kecamatan tersebut.

DPRD Cilacap, lanjut Fran, juga sepakat agar Pemkab Cilacap memberikan bantuan keuangan selama dua tahun selama pembentukan pemerintahan di Cilacap Barat. Bantuan juga diberikan untuk penyelenggaraan pemilihan kepala daerah di wilayah tersebut nantinya.

"Kesepakatan ini telah kami tuangkan dalam Keputusan DPRD Cilacap No 16.1/16/13/2010 tentang Persetujuan Pembentukan Calon Kabupaten Cilacap Barat sebagai Pemekaran dari Kabupaten Cilacap," kata Fran.

"Mengenai besarnya dana hibah dan bantuan untuk pemekaran tersebut, disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan Pemkab Cilacap. Kami juga menyepakati penyerahan kekayaan daerah yang dikuasai Pemkab Cilacap," ucap Fran.

Anggota DPRD Cilacap dari Cilacap bagian barat, Kustiwa, mengatakan, wacana mengenai perlunya pembentukan Kabupaten Cilacap Barat sudah lama muncul. Hal tersebut bertolak dari kenyataan ketertinggalan wila yah ini dalam pembangunan ekonomi. Infrastruktur pun ketinggalan dibanding saudara mereka di bagian timur.

"DPRD sepakat untuk mendukung pemekaran. Melihat fakta yang ada memang semestinya hal itu dilakukan," kata Kustiwa.


Sumber:
http://puspen.depdagri.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1085:pemekaran-cilacap-barat-tinggal-menunggu-pusat&catid=60:aktual-media-elektronik&Itemid=76 - 18 Januari 2010
17 Juni 2010

Sumber Gambar:
http://cilacapmedia.com/index.php/opini

Pemekaran Cilacap: Jalan Masih Panjang dan Terjal

Secara wilayah, Cilacap memang teramat luas untuk ukuran sebuah kabupaten. Coba bayangkan Anda menempuh perjalanan dari ujung paling utara, Kecamatan Dayeuhluhur, menuju ujug paling timur bagian selatan Kecaamatan Binangun dan Nusawungu, berapa jam harus menempuh perjalanan? Atau bayangkan apabila mereka memiliki keperluan di ibu kota kabupaten: Cilacap. Demikian pula yang tinggal di Kecamaan Patimuan, perbatasan dengan Jawa Barat, memerlukan waktu +/- 3 jam perjalanan.

Karena itu, dari sisi luas wilayah, kalihatannya Cilacap memang perlu dimekarkan. Masalahnya tidak sesederhana itu. Dan karena bukan soal yang sederhana, maka aspirasi sebagian warga Cilacap bagian barat untuk membentuk kabupaten sendiri, tampaknya akan melalui proses panjang.

DPRD Cilacap, sebagai ‘perwakilan’ rakyat memang sudah mengetok palu tanda setuju pemekaran, melalui Keputusan DPRD Cilacap No 16.1/16/13/2010 tentang Persetujuan Pembentukan Calon Kabupaten Cilacap Barat sebagai Pemekaran dari Kabupaten Cilacap. Keputusan dan rekomendasi pun sudah disampaikan ke Gubernur Jawa Tengah dan pemerintah pusat.

Namun, apa tanggapan ‘lurah’nya Jateng? Gubernur Bibit Waluyo, menyatakan dengan tegas dia tidak setuju dengan rencana pemekaran tersebut. Sebagaimana diberitakan media Jum’at (22/01), Bibit menilai, Pemerintah Kabupaten Cilacap belum memiliki keuangan yang cukup untuk membuat pemerintahan baru. “Kalaupun saya berhak memutuskan, saya akan menolaknya,” kata Bibit.

Penolakan Gubernur itu seakan parallel dengan pernyataan pemerintah pusat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai pertemuan dengan pimpinan lembaga tinggi negara, di Istana Presiden, Bogor, Kamis (21/01) mengatakan bahwa salah satu evaluasi yang dilakukan pemerintah dan DPR tentang pemekaran wilayah adalah pemekaran justru akan memberikan beban yang tidak semestinya kepada negara jika konsepnya tak tepat. Sehingga, pemerintah dan DPR bertekad menuntaskan penyusunan cetak biru pemekaran wilayah.

Menurut Presiden, pengeluaran yang tinggi dalam pemekaran wilayah harus dicegah agar anggaran negara lebih banyak jatuh ke rakyat orang per orang. “Pemekaran wilayah harusnya solusi pengembangan, peningkatan kesejahteraan, dan bukan sebaliknya menjadi masalah,” kata dia. Presiden mengingatkan, dalam waktu sepuluh tahun akan ada lebih dari 200 daerah otonom baru di Indonesia.

Presiden menilai belum ada konsep yang jelas mengenai pemekaran, alias perlunya grand design. Nah, setelah disusun grand design dan masterplan, kata Presiden, bisa saja masih ada pemekaran manakala itu sungguh diperlukan. Sebaliknya, daerah pemekaran yang sudah terjadi tapi menimbulkan masalah yang berat, bisa saja itu digabungkan.

Soal biaya

Rencana pemekaran Cilacap mencuat setelah DPRD Kabupaten Cilacap merasa wilayah Cilacap terlalu luas. Dewan menampung aspirasi dari warga Cilacap barat yang sudah merintis dan menggagas wacana ini sejak awal tahun 2000-an, dimana para aktifis menilai luasnya wilayah membuat pelayanan publik dan pembangunan wilayah Cilacap bagian barat lamban dan tertinggal.

DPRD menyadari pemekaran akan memerlukan biaya yang tidak sedikit, karenanya DPRD Cilacap telah sepakat bahwa Pemkab Cilacap harus memberikan bantuan keuangan selama dua tahun selama proses pemekaran berlangsung. Bantuan dana itu juga digunakan untuk pemilihan kepala daerah.

Namun menurut Bibit, untuk memekarkan sebuah daerah baru perlu perhitungan yang teliti. Bibit berkaca pada pengalaman yang sudah ada, pemekaran wilayah justru lebih merugikan. Alasannya, daerah yang tidak punya potensi sumber dana yang cukup memaksakan diri untuk berdiri sendiri.

Bibit meminta Pemkab Cilacap memikirkan rencana pemekaran itu kembali. Alasannya, Cilacap belum punya potensi sumber dana yang layak untuk memekarkan wilayah. “Saya khawatir, dana bantuan dari pusat atau provinsi habis hanya untuk membantu pemekaran,” kata Bibit.

Pemkab Cilacap pun diharapkan dapat mengembangkan potensi daerah. Hasil yang diperoleh dapat digunakan untuk membangun ekonomi kerakyatan.

Sementara itu, Wakil Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji pun mengakui, Pemkab Cilacap tidak mempunyai anggaran yang cukup untuk membiayai pemekaran Cilacap barat pada 2010. Dia memperkirakan, paling tidak dibutuhkan waktu dua tahun untuk proses pemekaran. Waktu yang lebih panjang diperlukan mengingat pemekaran harus dilakukan secara berhati-hati agar pemerintahan baru nanti tidak menyengsarakan masyarakat.

“Jangankan untuk membiayai itu, untuk pembangunan infrastruktur saja kami sangat terbatas. Makanya, kami melaporkan rencana pemekaran ini ke Pemerintah Provinsi Jateng dan pemerintah pusat,” kata dia. Secara pribadi, sebagai orang dari Cilacap barat Tatto setuju dengan pemekaran, namun dia tidak ingin pemekaran justeru akan menyengsarakan masyarakat. Dia pun mengutip pernyataan presiden, bahwa 90 % pemekaran daerah justru menyengsarakan rakyat.

DPRD sendiri, sebagaimana dikatakan Fran Lukman, Ketua DPRD Cilacap, memutuskan pemekaran Cilacap didasari pada pertimbangan timpangnya pembangunan antara Cilacap bagian barat dengan timur. Hal ini seperti terlihat dalam pembangunan infrastruktur di dua wilayah tersebut yang tak seimbang. Akibatnya, roda perekonomian di Cilacap bagian barat berjalan lebih lambat dibanding wilayah timur.

“Pemkab Cilacap hingga saat ini kewalahan untuk membangun wilayah Cilacap yang sedemikian luas. Bagian barat terlihat masih ketinggalan. Kami berharap dengan pemekaran ini Cilacap bagian barat dapat lebih cepat berkembang,” kata dia.

10 kecamatan

Cilacap merupakan kabupaten dengan wilayah terluas di Jateng, yang terdiri atas 24 kecamatan. Rencananya, 10 kecamatan yang ada di bagian barat dimekarkan sebagai kabupaten tersendiri. Sepuluh kecamatan tersebut adalah Majenang, Sidareja, Wanareja, Dayeuhluhur, Kedungreja, Patimuan, Cimanggu, Cipari, Gandrungmangu, dan Karangpucung.

Dalam pandangan legislatif, Pemkab Cilacap nantinya memberikan bantuan keuangan selama dua tahun selama pembentukan pemerintahan di Cilacap Barat. Bantuan juga diberikan untuk penyelenggaraan pemilihan kepala daerah di wilayah tersebut.

Besarnya dana hibah dan bantuan untuk pemekaran tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan Pemkab Cilacap. Lebih jauh DPRD menyepakati penyerahan kekayaan daerah yang dikuasai Pemkab Cilacap.

Melihat reaksi Gubernur Jawa Tengah dan pernyataan presiden SBY terkait pemekaran, dan melihat aturan-aturan ‘kerangka normatif pemekaran wilayah’ sebagaimana pasal 16 PP 169/2000 – di situ ada minimal ‘9 langkah’ yang harus dilalui – maka pemekaran Cilacap harus menempuh jalan yang panjang dan terjal. Usulan DPRD, hemat penulis baru menginjak ‘langkah kedua’, yaitu penjaringan aspirasi dan usulan DPRD/Pemkab ke Pemprov. Bagaimana kelanjutan ‘perjuangan’ pemekaran ini, akan menarik untuk selalu disimak.

(Diolah dari berbagai sumber oleh Puad Hasan Dipaleksana, penulis lepas, yang pernah bekerja dengan penempatan di Cilacap, Kroya, Sidareja dan Majenang di perusahaan swasta, dan pernah ‘menginjakkan kaki-nya’ di semua kecamatan di Kabupaten Cilacap. Kini tinggal di Purwokerto).


Sumber:
Puad Hasan Dipaleksana
http://banyumasnews.com/2010/01/23/pemekaran-cilacap-jalan-masih-panjang-dan-terjal/
17 Juni 2010

Chikungunya di Kabupaten Cilacap Meningkat Tajam

Jumlah penderita penyakit chikungunya di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sejak awal Januari hingga pertengahan Februari meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya.

"Berdasarkan pendataan yang kami lakukan sejak awal Januari hingga 16 Februari, tercatat sebanyak 1.116 kasus chikungunya di Kabupaten Cilacap," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, Sartono di Cilacap, Kamis (18/2).

Ia mengatakan, jumlah tersebut mendekati jumlah kasus chikungunya selama 2009 yang mencapai 1.200 kasus.

Menurut dia, puncak lonjakan kasus chikungunya selama 2009 terjadi pada bulan November dan Desember dengan daerah yang paling banyak mengalami peningkatan kasus di Kecamatan Dayeuhluhur.

Terkait persebaran penyakit chikungunya selama 2010 ini, dia mengatakan, paling banyak ditemukan di Kecamatan Karangpucung karena berdasarkan data dari Puskesmas Karangpucung II, di wilayah ini terdapat sebanyak 743 kasus.

Sementara wilayah lain yang terjangkiti chikungunya, kata dia, berada di Kecamatan Cilacap Tengah sebanyak 150 kasus, Jeruklegi terdapat 120 kasus, Sidareja 50 kasus, Gandrungmangu 30 kasus, Kesugihan 13 kasus, dan Wanareja 10 kasus.

Dia mengakui, keberadaan nyamuk Aedes aegypti penyebar penyakit chikungunya lebih sulit terdeteksi dibanding penyebar demam berdarah dengue karena lebih banyak berada di pekarangan atau kebun.

"Dari pengamatan kami, tingginya kasus chikungunya di Karangpucung karena alphavirus (virus penyebab chikungunya yang dibawa nyamuk Aedes aegypti, red.) banyak ditemukan di batok-batok kelapa yang digunakan untuk menampung getah pinus," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, para penyadap getah pinus diimbau untuk segera membuang air di dalam batok agar tidak terjadi pertumbuhan alphavirus.

Menurut dia, langkah tersebut perlu dilakukan sebagai upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) karena kegiatan pengasapan sulit dilaksanakan di wilayah ini.

"Pengasapan sangat sulit dilakukan karena wilayahnya sangat luas dan tersebar," katanya.

Selain chikungunya, kata dia, penyakit lain yang muncul selama musim hujan ini adalah demam berdarah dengue (DBD).

Kendati demikian, lanjutnya, kasus DBD yang terjadi selama Januari hingga 16 Februari 2010 mengalami penurunan jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya karena hanya tercatat sebanyak 62 kasus.

Menurut dia, penyakit DBD pada Januari 2009 mencapai 115 kasus dengan empat penderita meninggal dunia serta Februari 2009 mencapai 135 kasus dengan seorang penderita meninggal dunia.

"Selama 2009 terdapat 848 kasus DBD dengan delapan penderita meninggal dunia," katanya.

Dia mengatakan, masyarakat Cilacap diimbau untuk selalu berperilaku hidup sehat dan melaksanakan PSN agar kasus chikungunya dan DBD tidak mengalami peningkatan.

"Hal itu penting dilakukan oleh masyarakat karena kami mengalami keterbatasan anggaran untuk penanganan penyakit tersebut. Kami hanya memiliki anggaran sebesar Rp81 juta untuk penanganan selama setahun," kata Sartono.

Secara terpisah, Direktur RSUD Cilacap, Sugeng Budi Susanto mengatakan, saat ini tidak ada pasien DBD yang dirawat di rumah sakit yang dipimpinnya.

Menurut dia, pekan lalu ada empat penderita DBD yang sempat dirawat tetapi kini telah pulang karena sudah sehat kembali.

"Saat ini pasien didominasi penderita demam akibat pengaruh musim hujan, sedangkan penderita diare belum ada. Kalau penderita chikungunya memang jarang yang dirawat di
rumah sakit," kata Sugeng.(ant/yan)


Sumber :
http://erabaru.net/nasional/50-jakarta/10680-chikungunya-di-kabupaten-cilacap-meningkat-tajam 18 Feb 2010
17 Juni 2010

Road to Cilacap


Orang Cilacap pasti sudah hapal dengan menara Masjid Darussalam ini. Kupotret pas senja jelang magrib akhir April lalu.

Cilacap kota pantai yang punya jalan lebar-lebar dengan kendaraan yang tidak terlalu banyak. Banyak yang jualan es dan buah sampai malam. Apalagi kalau di alun-alun, selalu ramai kalau tidak hujan.

Temenku ngasih info kalau mau ke Cilacap:


Naik Kereta. Ada kereta dari Gambir ke Cilacap langsung, tiap hari. Berangkatnya pagi-pagi sekali sebelum jam 6. Kelas eksekutif kemarin harganya 130rb.

Naik Bis. Ada bis Rosalia Indah yang sempet kuliat di Cilacap–entah darimana datangnya. Bis ini tampilannya lebih bagus daripada bis Sinar Jaya yang berangkat dari Kampung Rambutan. Di Kampung Rambutan, bis Sinar Jaya jurusan Cilacap berangkat sebelum magrib–atau sebelum itu. Tiketnya sekitar 40-60rb. Kalau ketinggalan, naik aja yang jurusan Purwokerto, lalu turun di Ajibarang. Dari Ajibarang, ada bis ke Cilacap dengan harga 8ribuan–kurang dari dua jam nyampe.

Naik Travel. Travel Cilacap-Bogor/Jakarta ambil jalur puncak, jadi sering lebih cepat daripada bis yang lewat pantura yang selalu sedang diperbaiki. Tarif-nya sama dengan tarif eksekutif kereta. Saranku sih, jangan duduk di depan, karena selain kaki sulit selonjor, juga ga bisa tidur karena ngebut-nya itu.

Kalau penginapan, di sana ada banyak losmen, hotel melati, bintang 1 sampe bintang 3. Kebanyakan adalah penginapan lama, kecuali Hotel 3 Intan yang kamar standard-nya seharga 290rb. Untuk jenis kamar sama, di Hotel Cilacap Indah semalam 150rb –dengan fasilitas bagus untuk ukuran 10 tahun lalu. Yang menarik adalah wisma di Darussalaam, yang dikelola oleh yayasan. Semalam hanya 80ribu, tanpa air hangat tapi sangat dekat dengan masjid. Wisma ini menjadikan lantai atas sebagai penginapan, sementara lantai bawahnya adalah aula untuk pertemuan/resepsi.


Sumber:
http://iipalbanjary.com/2009/05/04/road-to-cilacap/
17 Juni 2010

Sumber Gambar:
http://picturestraveller.blogspot.com/search/label/cilacap

Wisata Pantai Jadi Andalan Cilacap

Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, hingga saat ini tetap mengandalkan wisata pantai sebagai ikon, sehingga pengembangan terhadap potensi tersebut terus dilakukan. Demikian Kepala Bidang Pemasaran dan Penyuluhan Pariwisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Cilacap, Dian Arinda Murni, di Cilacap, Rabu.

Ia mengatakan, berbagai upaya yang dilakukan Dinbudpar untuk mengembangkan potensi wisata pantai di Cilacap yakni menggandeng pihak ketiga (swasta) dalam pengelolaan Objek Wisata Pantai Teluk Penyu termasuk di dalamnya Benteng Pendem.

Dengan adanya keterlibatan pihak ketiga, kata dia, keberadaan Objek Wisata Pantai Teluk Penyu dan Benteng Pendem dapat lebih tertata serta menarik sehingga kunjungan wisatawan diharapkan dapat meningkat dan dapat lebih banyak menyumbangkan dana bagi pendapatan asli daerah (PAD).

Menurut dia, PAD yang disumbangkan sektor pariwisata pada tahun lalu mencapai Rp400 juta yang sebagian besar berasal dari Teluk Penyu dan Benteng Pendem.

“Kita berharap dengan keterlibatan pihak ketiga, PAD yang disumbangkan tahun ini meningkat dua kali lipat dari tahun lalu atau minimal mencapai Rp600 juta,” katanya.

Keterlibatan pihak ketiga terhadap pengelolaan kawasan wisata Teluk Penyu tersebut, menurut Dian, masih dalam rangka uji coba karena jika berhasil, tidak menutup kemungkinan hal itu akan dilakukan pada objek wisata lain.

Menyinggung keberadaan objek wisata lainnya di Kabupaten Cilacap dan sebagian besar berada di wilayah pantai, dia mengatakan, Dinbudpar tetap berupaya melakukan pengembangan meski diakui masih adanya beberapa kendala yakni kepemilikan lahan oleh TNI.

Kendati demikian, kata dia, Dinbudpar akan berusaha menjembatani para investor yang berminat mengembangkan sejumlah objek wisata pantai tersebut dengan pihak TNI selaku pemilik lahan.

Salah satu objek wisata pantai yang saat ini lahannya masih dimiliki TNI, lanjutnya, yakni Pantai Indah Widarapayung yang konon memiliki ombak yang sangat bagus untuk kegiatan selancar.

“Kita ingin nantinya Pantai Indah Widarapayung dapat menjadi salah satu tempat berselancar wisatawan domestik maupun mancanegara. Bahkan, saat ini sudah ada dua investor yang tertarik mengembangkan pantai tersebut dan saya kira pihak TNI akan bersedia memberi dukungan,” katanya.(*z/a)


Sumber:
http://matanews.com/2009/05/06/wisata-pantai-jadi-andalan-cilacap/
17 Juni 2010

Sentuhan Teknologi Jamu Cilacap

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Pepatah ini agaknya cukup mengena pada sejumlah pengusaha jamu tradisional di Cilacap, Jawa Tengah. Beberapa waktu lalu, santer tersiar kabar sejumlah produk jamu mengandung bahan kimia. Penambahan bahan kimia pada jamu tentu saja dilarang.

Namun, beberapa oknum pembuat jamu racikan di daerah Cilacap pernah menambah racikan jamu tradisional dengan bahan obat. Akibatnya, jamu tersebut dilarang beredar dan dilarang berproduksi lagi. Para pembuat jamu tradisional di Cilacap pun terpuruk akibat peristiwa tersebut. Memang, hanya beberapa pembuat jamu yang melakukannya. Tapi, akhirnya semua pengusaha jamu selalu dicurigai dan sulit mendapatkan izin dari pemerintah daerah. "Ini jelas merugikan kami para pembuat jamu tradisional," ujar Amir Fatah, perwakilan Kepala Desa Gentasari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Keluhan tersebut mengemuka saat peninjauan penerapan program Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Daerah (Iptekda) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jawa Tengah. Para pengusaha jamu mengeluhkan sulitnya memperoleh perizinan. Namun, mereka tak patah arang, karena sejak berpuluh-puluh tahun lalu, jamu Cilacap merupakan andalan penghasilan keluarga di desa itu.

Upaya keras untuk memperperbaiki citra jamu tradisional Cilacap terus dilakukan dengan meningkatkan mutu jamu yang diproduksi. Amir berharap, dengan memperbaiki kualitas, mereka bisa kembali meraih kepercayaan pemerintah maupun konsumen.

Maka, penerapan program mesin pengolah herbal yang dirancang iptekda, berusaha diterapkan. Amir mengatakan, peran LIPI cukup memberikan dampak positif bagi perbaikan mutu jamu. "Semoga bantuan mesin dari iptekda bisa membuat jamu Cilacap jadi tuan rumah di daerah dan negara sendiri," ujarnya.

Pemrosesan jamu

Untuk meningkatkan kualitas produksi jamu di Kabupaten Cilacap, Pusat Penelitian Teknologi Listrik dan Meka-tronik (P2 Telimek) LIPI membuat rangkaian peralatan produksi jamu. Perancangan alat ini menggandeng juga perusahaan jamu Sumber Alami, Cilacap.

Kepala Puslit Telimek LIPI Bandung, Agus Hartanto, mengatakan, sudah lama ia berpikir ingin menjadikan jamu tradisional Indonesia jadi go international, seperti produk Cina. Makanya, LIPI mencoba membantu membuat peralatan pemroses jamu. "Peran kita untuk menekankan agar tak ada campuran bahan kimia pada jamu dan benar-benar herbal. Dengan herbal pun, produksi kita bisa bagus dan bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Menurut Peneliti P2 Telimek LIPI, Dal-masius Ganjar Subagyo, jamu berkonotasi obat-obatan, yang cenderung berbahan kimia. "Padahal, jamu berbahan baku herbal," ujar Dalmasius yang mempelajari karakter jamu Cilacap sejak 2004.

Dahulu, menurutnya, peralatan untuk memproduksi, jamu sangat sederhana dengan kapasitas terbatas. Kualitasnya pun masih rendah. Maka, dibuatlah alat dengan kapasitas produksi 100 kilogram per hari. Teknologi yang digunakan dalam program ini adalah membuat satu rangkaian peralatan yang secara berurutan melakukan proses produksi. Rangkaian peralatan tersebut dipakai untuk memproduksi tepung jamu berkualitas.

Sentuhan teknologi dilakukan mulai tahap pencucian bahan-bahan herbal hingga pengemasannya. Adapun tahap-tahapan yang dilalui adalah proses pencucian, pengirisan {slicing), pengeringan, penepungan, peracikan {mixer), pengemasan dalam bentuk sachet, dan ke depan akan dikembangkan teknologi pengekstrak. "Untuk tingkat UKM, ini sudah cukup. Produksi tepung itu bukan langsung penepung. Tapi, ada prosesnya dan alatnya sendiri," ujar Dalmasius.

Salah satu mesin yang digunakan adalah mesin pengering irisan herbal seperti jahe, temulawak, kencur, dan kunyit, sebagai bahan baku jamu. Pengeringan dilakukan untuk menurunkan kadar air di herbal, sehingga tersisa menjadi sekurangnya 10 persen.

Alatnya menggunakan listrik untuk menggerakkan mesin. Sementara suplai panas guna mengeringkan irisan herbalmenggunakan kayu bakar. "Kita hanya menggunakan panasnya dari kayu bakar, bukan asapnya. Ini sebagai pengganti sinar matahari," ujarnya.

Dalmasius mengatakan, dengan peralatan produksi ini, diharapkan dapat mempercepat proses produksi serta mengontrol langsung kualitas dari tepung yang diproduksi. Kapasitas mesin yang diperbantukan sebesar satu ton tepung herbal per hari. Kapasitas ini bisa mendukung persiapan 11 produk unggulan jamu Cilacap.

Menurutnya, dari hasil teknologi ini, bisa dihasilkan berton-ton tepung jamu. Tepung ini bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan para peracik jamu. Dulu, pada saat puncak kesuksesan jamu Cilacap di era 1994 hingga 1996, kebutuhan tepung jamu sebanyak 10 ton per hari. "Sekarang, kita bisa penuhi, asalkan ada perjanjian tertulisnya, yaitu tidak mencampur racikannya dengan bahan kandungan obat," ujar Dalmasius.

Sekitar 30 persen dari 13.022 orang penduduk desa ini, bekerja di industri pembuatan jamu. Pengurus Koperasi Jamu Aneka Sari, Mufarid, mengharapkan, produksi jamunya akan lebih bagus dengan teknologi dari iptekda."Kami berharap dari program ini bisa memberikan pengarahan pembuatan jamu yang lebih baik," ujarnya.

Di Koperasi Jamu (Kopja) daerah ini, terdapat 12 unit usaha jamu dengan 257 perajin, termasuk jamu Aneka Sari. Semua unit usaha wajib melakukan pengujian jamu dengan menggunakan cara pembuatan obat yang baik (CPOB). Selain itu, juga mewajibkan setiap pengusaha memiliki apoteker dan laboratorium. sd andina


Sumber :
Dewi Mardlani, Republika dalam :
http://bataviase.co.id/node/245851
17 Juni 2010

Gubernur Jawa Tengah Tolak Usulan Pemekaran Wilayah

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo menolak rencana pemekaran wilayah di Jawa Tengah. Alasannya, pemekaran wilayah membutuhkan dana yang besar untuk membangun infrastruktur. Tanpa dukungan dana yang besar, pemekaran wilayah justru akan menimbulkan dampak negatif daripada positifnya.

“Saya tidak setuju pemekaran wilayah. Ini demi kesejahteraan masyarakat,” kata Bibit di Semarang, Kamis (21/1). Bibit khawatir dana bantuan dari pemerintah provinsi justru akan habis hanya untuk persiapan daerah pemekaran dan mengganggu program kesejahteraan masyarakat. “Lebih baik Jawa Tengah seperti saat ini,” tandasnya.

Menanggapi usulan pemekaran wilayah Cilacap bagian barat, Bibit menilai sumber daya yang ada di Cilacap belum memungkinkan untuk dilakukan pemekaran. “Cilacap itu punya apa?” ujarnya.

Sejak 2007, sebagian warga Cilacap bagian barat yang tergabung dalam Paguyuban Warga Cilacap Barat telah mengajukan usulan kepada DPRD Cilacap untuk dilakukan pemekaran wilayah. Setelah melalui pembahasan, akhirnya DPRD setempat menyetujui usulan tersebut untuk selanjutnya keputusannya diserahkan kepada Provinsi Jawa Tengah dan Departemen Dalam Negeri.

Di antara alasan pemekaran Cilacap adalah Cilacap merupakan kabupaten dengan wilayah terluas di Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Barat, terdiri dari 24 kecamatan dan 284 desa. Luasnya wilayah menyebabkan pelayanan pemerintahan kurang efektif.

Wilayah Cilacap Barat yang diusulkan menjadi Kabupaten Cilacap Barat terdiri dari 10 kecamatan, yakni Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, Cimanggu, Karangpucung, Gandrungmangu, Sidareja, Cipari, Kedungreja dan Patimuan.

SOHIRIN

Sumber:
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2010/01/21/brk,20100121-220579,id.html
17 Juni 2010

Masyarakat Desa Gentasari Kec. Kroya Kab. Cilacap Jateng Mempunyai Pesawat Nomad P-806.


Kabupaten Cilacap merupakan daerah terluas di Jawa Tengah, dengan batas wilayah sebelah selatan Samudra Indonesia, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Kuningan Propinsi Jawa Barat, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kebumen dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar Propinsi Jawa Barat serta mempunyai luas wilayah 225.360,840 Ha, yang terbagi menjadi 24 Kecamatan 269 desa dan 15 Kelurahan.

Diantara 24 Kecamatan dan 269 desa, ada satu kecamatan yang mempunyai Museum yaitu kecamatan Kroya yang tepatnya terletak di desa Gentasari, museum ini menyimpan berbagai koleksi milik Alm. Jendral (Purn) Susilo Sudarman, dari mulai menjadi Taruna Tahun 1948 sampai akhir hayatnya.

Banyak koleksi yang menarik di museum ini, dari tank, pesawat, senjata dan lain sebagainya, nama dari museum ini adalah Museum Susilo Sudarman. Museum Susilo Sudarman ini diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada hari senin tanggal 03 September 2007.

Pada awalnya Museum ini adalah Pendopo Ageng yang kemudian pada tahun 1983 Soesilo Soedarman pada waktu itu menulis surat pada keluarga besar Soedarman untuk menjadikan Pendopo Ageng menjadi Museum, pada tahun 1998 keinginan ini dapat direalisasikan menjadi museum Soesilo Soedarman.

Museum yang terletak di desa Gentasari Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap Jawa tengah ini didirikan oleh keluarga besar Almarhum Soesilo Soedarman dan dibuka untuk umum. Almarhum Jenderal TNI (Purn) Soesilo Sudarman dilahirkan di Desa Nusajati, Maos Kabupaten Cilacap Jawa Tengah pada tanggal 10 Nopember 1928 dan wafat pada hari kamis 18 Desember 1997 dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Jabatan terakhir yang beliau pegang sebagai menteri Negara Koordinator bidang Politik dan kemanan RI pada Kabinet pembangunan VI di era Orde Baru. Yang lebih menarik lagi disana terdapat pesawat TNI Angkatan Laut jenis Nomad N-22 Patroli Maritim Skuardron udara 800 dengan nomor lambung P-806 pernah dipakai oleh Almarhum Soesilo Soedarman yang ketika itu beliau menjabat sebagai Panglima Kowilhan-I dengan pangkat Letjen TNI untuk mendukung kegiatan patroli keamanan laut di wilayah perairan Sumatera, laut Natuna dan Kalimantan Barat.

Sebagai Kenangan-kenangan sekaligus memperlengkap isi Museum yang luasnya ± 1.5 hektar pada tanggal 08 Nopember 2004 Kepala Staf Angkatan Laut pada waktu itu Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh menandatangani prasasti penyerahan Pesawat Nomad N-22 Patroli Maritim TNI Angkatan Laut dengan nomor lambung P-806.


Sumber :
http://www.puspenerbal.mil.id/index.php?komp=baca&bd=baca&bg=1&id=171
17 Juni 2010

Disiapkan Rp 1,5 T untuk Perikanan Budidaya

Sektor perikanan budidaya dinilai lebih mudah dikembangkan daripada sektor perikanan tangkap. Karena produksi terendah sektor perikanan budidaya sebesar 5%, sedang perikanan tangkap hanya bisa didongkrak 0,5% per tahun. Kini pemerintah menyiapkan dana Rp 1,5 triliun untuk pengembangan sektor budidaya secara nasional hingga tahun 2011.

“Untuk produksi perikanan budi daya di Kabupaten Cilacap per tahunnya mencapai 3.597 ton lebih per tahun,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Cilacap Moh Harnanto, Selasa (8/6). Produksi itu terdiri udang vaname sebesar 380 ton, bandeng 331 ton, lele 840 ton, nila 456 ton, kerapu 3,46 ton, gurami 1.005 ton, mas 229 ton dan tawes, nilam, tambakan serta mujaer sebesar 353 ton.

Untuk pengembangan tiga tahun kedepan perikanan budidaya itu produksinya diperkirakan naik mencapai 30%. Hal itu meningat potensi untuk pengembangannya masih sangat terbuka. “Cilacap sendiri telah memiliki sentra-sentra pengembangan perikanan budidaya,” lanjut Harnanto. Di antaranya, wilayah Kecamatan Sampang dan Maos merupakan sentra ikan gurami dan lele, Dayeuhluhur dan Wanareja sentra ikan mas, nila dan tawes, serta Cilacap Tengah ikan bandeng, udang dan nila.

Diakui, banyak kendala yang dihadapi sektor perikanan budidaya. Di antaranya sebut Harnanto, harga pakan atau pelet ikan yang tinggi, dan kurangnya persediaan induk berkualitas unggul atau bersertifikat. Kemudian juga lemahnya akses permodalan dan kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas dan kuantitasnya.

“Untuk itu, ke depan kami akan mengembangkan balai benih ikan, seleksi induk lokal dan mendatangkan benih dari daerah tetangga. Dan menyalurkan subsidi harga benih ikan untuk kelompok budidaya ikan dan masyarakat serta pembentukan unit perbenihan rakyat dan memfasilitasi perolehan modal usaha bagi usaha kecil menengah (UKM),” katanya.

Disamping itu, masih rendahnya konsumsi ikan per kapita di Kabupaten Cilacap merupakan PR ke depan. Mengingat konsumsi ikan per kapita di Cilacap hanya 12 kg per tahun. Dibanding dengan secara nasional masih terpaut jauh karena secara nasional konsumsi ikan per kapitanya mencapai 28 kg per tahun. “Jika dibandingkan dengan negara tetangga terdekat masih jauh pula, karena Malaysia sudah mencapai 45 kg dan Singapura 70 kg per kapita,” tambahnya.

Sumber :
Kedaulatan Rakyat, dalam :
http://www.purwokertonews.com/disiapkan-rp-15-untuk-perikanan-budidaya.html
17 Juni 2010

Pulihkan Citra Jamu Cilacap

amu Cilacap beberapa tahun belakangan lekat dengan predikatnya sebagai jamu ilegal, baik yang dicampur dengan obat keras maupun yang diproduksi tanpa izin. Setiap tahun Badan Pengawas Obat dan Makanan Semarang maupun kepolisian menemukan produksi jamu ilegal dari kabupaten itu, terutama pada sentra produksi jamu di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, dan beberapa kecamatan di Kabupaten Banyumas.

Dibutuhkan komitmen dari para perajin jamu di Cilacap dan dukungan dari semua pihak untuk pemulihan citra jamu dari Cilacap. Seiring semakin gencarnya razia, selama sepuluh tahun terakhir 1.800 produsen jamu di Cilacap yang menghentikan usahanya. Saat ini terdapat sekitar 200 produsen. Hanya segelintir produsen yang dapat bertahan memproduksi jamu secara reguler dan sebagian besar hanya membuat jamu jika ada pesanan.

Dua tahun belakangan, sejumlah generasi muda yang tergabung dalam Koperasi Jamu Aneka Sari di Desa Gentasari kembali berusaha membangun sistem produksi jamu yang sehat. Humas Kopja Aneka Sari Sudiarto mengatakan, pihaknya sudah setahun terakhir merancang sistem kendali mutu produksi jamu. Tahap awal adalah dengan membangun rumah produksi yang sesuai standar kesehatan agar memperoleh izin industri kecil obat tradisional (IKOT).

Izin IKOT itu juga untuk menjamin produksi jamu Cilacap. Bukan rahasia lagi di kalangan pengusaha jamu Cilacap, isu jamu ilegal dimanfaatkan sejumlah oknum untuk melakukan pungutan liar.

Santoso (39), pedagang jamu tradisional di Maos, Cilacap, menuturkan, jamu-jamu yang mengandung bahan berbahaya sulit dibedakan dengan jamu legal. "Sebagai pedagang, saya sendiri kadang bingung mana yang asli dan mana yang berbahaya. Walaupun tak jelas, ternyata banyak juga pembeli yang suka," kata Santoso.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Semarang Supriyanto Utomo mengatakan, kerapnya ditemukan produksi jamu ilegal di Cilacap karena hukuman yang tidak menimbulkan efek jera. "Ada indikasi para produsen jamu ilegal berpindah dari Cilacap ke Jawa Timur. Kami mendapat informasi dari penelusuran kepolisian," ujar Supriyanto, Sabtu (3/4).

Direktur Narkoba Kepolisian Daerah Jawa Tengah Komisaris Besar Sukirman mengatakan, kepolisian akan mengusut tuntas kasus produksi jamu ilegal di Cilacap, termasuk memutus mata rantai peredarannya. Polisi juga akan menelusuri pemasok bahan baku non-alami. "Kami akan berkoordinasi dengan polda lainnya jika bahan itu dipasok dari luar Jateng," kata Sukirman.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng Ihwan Sudrajat mengatakan, pencabutan izin edar tidak akan menyelesaikan masalah dan jamu ilegal yang membahayakan kesehatan akan terus bermunculan. Produsen jamu ilegal mempekerjakan banyak tenaga kerja dan mereka sudah memiliki konsumen loyal.

Disperindag Jateng juga akan memberi pemahaman kepada para perajin jamu mengenai pembuatan jamu yang aman, tetapi tetap menguntungkan. Jika para perajin jamu tetap tidak dapat memproduksi jamu yang aman konsumsi, pemerintah daerah akan memberikan
alternatif pekerjaan lain bagi para perajin. (mdn/han/uti/ilo/den)


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/05/11072387/Pulihkan.Citra.Jamu.Cilacap.
17 Juni 2010

Pelabuhan Perikanan Cilacap



Sumber:
Erwin Hanafi
http://www.flickr.com/photos/14874375@N03/2712975032/